Ada satu hal yang mungkin kita semua sudah tahu, tapi jarang banget mau ngaku, yaitu hidup di era digital
itu sungguh melelahkan. Serius.
Kita bangun tidur disambut oleh layar, saat mau tidur lagi juga ditemani layar. Bahkan, pikiran pun sudah seperti
punya dua alamat, satu di dunia nyata, satu lagi di dunia maya. Anehnya, yang maya justru sering terasa lebih
“hidup”.
Media sosial awalnya cuma tempat buat berbagi momen lucu, cari inspirasi, atau ngobrol sama teman. Namun, entah sejak kapan, ia berubah jadi pusat perhatian dan hidup kita. Tempat kita menaruh harapan, kecemasan, validasi, bahkan rasa tidak aman. Kita tahu sebagian besar yang kita lihat di internet itu penuh filter, penuh pencitraan, penuh editan. Namun, uniknya, perasaan kita tetap ikut goyah. Feed orang lain bisa bikin kita merasa kurang.
Story orang lain bisa bikin kita merasa tertinggal. Dan, notifikasi yang masuk bisa mengontrol mood satu hari penuh.
Yang lebih lucu lagi, walaupun kita semua tahu ini melelahkan, kita tetap balik lagi.
Dan, lagi. Dan, lagi.
Ya, kan?
Buku ini lahir dari keresahan itu. Maksudnya, bukan keresahan untuk menyalahkan teknologi. Karena jujur, teknologi juga banyak menolong hidup manusia. Namun, lebih ke ajakan untuk berhenti sebentar, melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita, dan bertanya,
“Sebenarnya siapa yang memegang kendali atas hidupku?”
Kalau kamu pernah merasa cemas saat nggak buka ponsel, merasa kurang setelah melihat feed orang lain,
merasa perlu posting sesuatu supaya dianggap “ada”, atau merasa hidupmu terukur dari angka like.
Percayalah, kamu nggak sendirian. Melalui buku ini, kita akan berjalan bareng-bareng.
Tanpa judgement, tanpa sok bijak. Kita akan ngobrol tentang otak kita, tentang perasaan
yang sering nggak bisa dijelaskan, tentang tekanan digital yang diam-diam membentuk masa depan kita, dan tentang
bagaimana mengambil kembali kendali itu. Pelan-pelan, tanpa drama. Tujuannya sederhana, supaya kita bisa tetap
waras, tetap jadi diri sendiri, dan tetap punya hidup yang berarti, meskipun dunia digital makin ramai.